Rabu, 10 Desember 2008

Jangan Biarkan Anak Jalanan Itu “Ngelem” !!!

Derasnya arus globalisasi dan kejamnya kota telah memangsa anak jalanan di kota Medan. Hampir di setiap perempatan lampu merah ada anak jalanan yang mengamen. Banyak lagi diantara mereka yang mengais rejeki diantara tumpukan sampah dan memilih menjadi pedagang asongan. Tragisnya, mereka jadi korban kekerasan dan perbudakan narkoba. Jangankan orang tua, pemerintahpun kadang mengabaikan peranan bocah trotoar itu di jalanan. Sejujurnya mereka juga membutuhkan perlindungan dari bahaya ancaman narkoba yang mengerikan itu.

Ngelem atau sniffing adalah sejenis narkoba yang umumnya digunakan oleh anak jalanan dengan menghirup benda-benda sejenis lem, zat pelarut (thinner cat), lem kambing (aibon) atau zat lain sejenisnya untuk mencari ketenangan dan kesenangan. Anak jalanan itu “ngelem” untuk mencari impian dan khayalan diantara kehidupan kota. Mereka adalah anak-anak yang dibesarkan liar di jalanan tapi mencoba merekatkan harapan-harapan kosong yang tidak mereka dapatkan di rumah.

Mungkin saja dirumah mereka tidak mendapati kehangatan, kenyamanan dan peluk kasih sayang hingga mereka mencarinya sampai menelusuri trotoar. Berbagai alasan pasti kita temukan, apabila kita mau sedikit saja melirik kehidupan anak yang dibesarkan diantara kekerasan kota itu. Bocah-bocah trotoar itu seakan tidak peduli dengan cuaca yang datang silih berganti. Tak peduli saat mentari tenggelam dan derasnya hujan memporak-porandakan tempat tidur mereka.

Mereka mencoba mengais rupiah untuk membantu keluarganya dan membayar patungan untuk membeli lem. Dengan membeli lem secara patungan, persahabatan mereka sesama anak jalanan bertambah akrab, karena satu kaleng lem kambing bisa mereka gunakan secara bergantian sesama pengamen. Setelah memakai, anak-anak itu merasa ngantuk karena bahan-bahan kimia yang mereka hirup dari lem tersebut telah memaksa otak untuk tidak bekerja sebagaimana mestinya. Dan kalau sudah terlalu sering melakukannya, efeknya bisa terjadi iritasi pada selaput kornea mata.

Itulah fenomena anak yang dibesarkan di jalanan diantara kejamnya kota dan derasnya arus globalisasi. Tradisi ngelem umumnya dinikmati oleh bocah jalanan di Medan. Dari pengamatan penulis, anak jalanan seperti Mara Siahaan (13) Niko Manullang (13) dan Lia (12) sering ngelem di persimpangan lampu merah di Jalan Gatot Subroto Medan. Umumnya yang membuat anak-anak ini harus terjun ke jalanan karena harus mencari uang untuk membantu ekonomi keluarga.

Seperti cerita Mara, setelah ia meninggalkan rumah untuk mencari uang bersama bocah lain, akhirnya ia ikut menikmati tradisi ngelem karena terpengaruh dengan anak jalanan di persimpangan itu. “Pertama sih mau coba-coba tapi lama-lama saya ketagihan, kata bocah ini.

Anak dari pasangan Siahaan dan boru Girsang yang tinggal di kawasan Gaperta, Medan ini kerap terlihat mengamen dan menawarkan jasa sebagai tukang semir di daerah Petisah, Medan. ”Aku turun ke jalan dan meninggalkan rumah untuk mencari uang karena kasihan melihat orang tuaku sering ribut karena masalah ekonomi keluarga. Aku nggak tega melihat Bapak yang sakit-sakitan berjualan sementara Ibu seakan tidak peduli dan lebih suka main judi ,” aku Mara pada Penulis.

Patungan

Bersama rekan-rekan yang lain, Mara mencoba mengais rupiah untuk membantu keluarganya dan membayar patungan untuk membeli lem. Diakui mereka dengan membeli lem secara patungan, persahabatan mereka sesama anak jalanan bertambah akrab, karena satu kaleng lem kambing bisa mereka gunakan secara bergantian sesama pengamen. “Kami sendiri tidak menyangka rupanya dengan membeli lem kambing patungan dari hasil keringat sendiri kami sendiri, rasanya jauh lebih nikmat,” kata mereka serempak yang diramaikan oleh bocah yang lain.

Seperti biasanya, ‘ketenangan’ yang dirasakan anak-anak jalanan ini menghirup lem hanyalah bersifat sementara . “Paling hanya sekitar 5 jam. Namun tergantung juga pada masing-masing anak ini yang memiliki daya tahan tubuh yang berbeda-beda. Ada yang bisa lebih dari 5 jam merasakan ‘rasa enak’ itu, namun ada pula yang beberapa jam saja. Dan ini tergantung juga dengan bagaimana cara mereka menghirup lem tersebut, urai Direktur Gerakan Anti Narkoba (GAN) Indonesia, Zulkarnain Nasution di Medan.

Mati Mendadak

Kalaupun anak-anak itu merasa ngantuk, kata Zulkarnain, karena bahan-bahan kimia yang mereka hirup dari lem tersebut telah memaksa otak untuk tidak bekerja sebagaimana mestinya. “Kalau sudah terlalu sering melakukannya, efeknya bisa terjadi iritasi pada selaput kornea mata. Bahkan dampak yang paling cepat, yakni si penghirup jadi mudah lupa, tidak mampu berpikir.

Maka tidak heran, bila dampak buruk yang dapat terjadi bukan hanya pada otak, melainkan berakibat fatal pada jalur sistem syaraf pusat, kerusakan hati dan jantung, sakit di perut dan sakit saat mengeluarkan air seni, kram otot atau batuk-batuk. “Jangan biarkan anak-anak jalanan yang merupakan bagian dari anak-anak kita sendiri terbiasa melakukan ngelem. Jangankan anak jalanan, belum lama ini anak-anak SD usia 6 - 9 tahun pernah kami temukan ‘ngelem’ di kawasan Medan Marelan,”tandas Zulkar.

Ada baiknya kita mengingatkan mereka sebelum terjadi sesuatu yang membahayakan bagi diri mereka, mengingat kebiasaan ngelem bisa mengakibatkan kematian mendadak seperti tercekik,” tegas Zulkar mengakhiri. Tapi dimana kepedulian pemerintah yang berwajib melindungi anak-anak terlantar ini ?

5 komentar:

  1. Aku tadi ketemu anak ngelem di tangga penyeberangan (sky cross) plaza medan fair. Kasihan mereka.

    BalasHapus
  2. kasihan yah taufik. aku sepandapat denganmu. tapi kita jgn pernah ngasih apa2 ama mereka biar mreka jgn betah di jalanan. itu solusinya

    BalasHapus
  3. Salam kenal Rahel :)
    kemarin saya melihat anak jalanan yang sedang ngelem di simpang usu, ada aparat polisi yang coba merebut lem mereka tapi sayang mereka melawan (mungkin karna ngelem sudah menjadi kebutuhan utama mereka) hasilnya mereka juga mendapat perlakuan kasar, sangat sedih melihat hal2 seperti itu.

    BalasHapus
  4. lem punya sensasi yang tersendiri, amgan kita dan fantasi kita seaakan hidup. namun semua tentu ada efeknya, gue juga sering ngelem, jadi faktor ngelem itu gak cuma untuk anak2 jalan aja lko
    20%anak sekolahan pernah melakukanya.

    BalasHapus
  5. jadi tertarik untuk lebih mengetahui alesan, kenapa anak jalanan tu ngelem... !

    BalasHapus

Anda Punya Pendapat Lain? Silahkan dibagi ya, tks.